Yep fellas, mungkin diantara kamu ada yang memiliki anak, adik-kakak, saudara atau tetangga penyandang autisme? We should do care.. tugas kita membantu mereka dengan menerima apa adanya seperti menerima anak-anak yang lain. Tanpa membuat mereka dipaksa menjadi normal menurut mainstream masyarakat. Dan please, jangan sembarangan menggunakan kata “autis” untuk mencap seseorang atau produk karena hal ini sangat sensitif.
History
Pada tahun 1943 Leo Kanner menulis tentang infantile autisme yang menerangkan tentang berbagai gejala yang didapat pada masa kanak-kanak dengan menggambarkan kesendirian, keterlambatan dalam perkembangan bahasa, melakukan aktivitas spontan terbatas, stereotip, obsesi terhadap cemas dan takut akan perubahan, kontak mata dan hubungan dengan orang lain pun buruk, dan lebih menyukai benda mati atau gambar. Dikenal juga dengan sebutan Autism Spectrum Disorders (ASDs) Anak-anak dengan autisme tidak mampu membentuk jalinan emosi dengan orang lain. Ada banyak hal yang sulit dimengerti oleh pikiran, perasaan, dan orang lain. Bahasa mereka adakalanya mengalami kegagalan, sehingga sulit berkomunikasi dan sosialisasi. Mereka pun kaku menjalani pola rutinitas kegiatan sehari-hari, bahkan seringnya melanggar aturan. Selain itu ada beberapa anak merasa sensitif dengan suara atau bunyi yang terdengar di telinga, sentuhan pada kulit atau tubuh, pandangan mata, bahkan penciuman. Ciri lainnya adalah melakukan gerakan meniru, baik ucapan atau gerakan. Ada juga yang melakukan self injury, yaitu melukai anggota tubuh misalnya headbang, mengorek-ngorek luka, menggigit anggota tubuh.
Ada banyak faktor yang menyebabkan autisme. Ringkasnya adalah disebabkan dari kelainan struktur saraf pada otak, genetik, sistem imun (akibat racun/timbal), dan kerusakan sistem metabolisme atau alergi makanan. Gejala mulai tampak pada usia 18-19 bulan. Seperti tiba-tiba menolak kehadiran orang lain, beperilaku aneh, dan kemunduran, bahasa-sosialisasi yang pernah dimilikinya. Autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki 3-4 kali lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Jika wanita yang mengidap, kemungkinan lebih serius dan terdapat riwayat genetik pada keluarganya.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, masalah autisme meningkat sangat pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bila tahun 1990-an jumlah anak penyandang autisme adalah 15-20 per 10.000 anak, maka pada tahun 2000-an diperkirakan ada 1 per 150 anak di Amerika, dan 1 per 166 anak di Inggris. Sehingga sampai tahun ini sedikitnya terdapat sekitar 35 juta penyandang autisme di seluruh dunia. Awalnya autisme terdapat pada keluarga dengan status sosial-ekonomi tinggi, namun akhir-akhir ini ternyata terdapat pula pada status sosial-ekonomi rendah.
Melihat peningkatan yang terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan penyandang autisme sudah ada di seluruh pelosok Indonesia. Yang menyedihkan adalah kurangnya tenaga ahli yang paham mengenai autisme dan kurang tersebarnya pengetahuan mengenai penanganan anak penyandang autisme. Sehingga selain di kota besar, penanganan anak-anak ini masih sangat minim bahkan sering terjadi salah diagnosis atau terapi.
Wawasan masyarakat awam pun masih sangat minim. Sering tejadi kesalahpahaman pengertian autisme itu sendiri. Misalnya perlakuan masyarakat yang melabel nakal, bahkan gila atau sekolah yang tidak menerima anak-anak seperti ini. Atau penggunaan kata “autis” untuk mengejek orang tertentu, yang paling parah kejadian yang baru-baru ini mendapat protes cukup keras dari orang tua dan aktivis mengenai iklan sebuah gadget yang menggunakan kata autis dalam iklannya. Bukankah ini pertanda sebuah kurang kepedulian masyarakat terhadap autisme?
Kabar baiknya, Di Indonesia telah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap masalah ini. Terbukti dengan mulai berkembangnya perhimpunan atau lembaga yang concern terhadap autisme, dan tenaga ahli seperti psikologi, orthopedagog (tenaga pengajar), terapis. Juga mulai munculnya sekolah khusus autistik atau sekolah inklusi (menerima anak dengan kebutuhan khusus). PBB dan negara-negara di dunia telah menjadikan autisme sebagai masalah global yang harus segera ditangani seperti AIDS. Dan mendeklarasikan setiap 2 April diperingati sebagai hari autisme di dunia.
type
Menurut Baron-Cohen (1993) ada beberapa kondisi yang –sebagai pembanding- mirip gejala autism, antara lain:
- Elective mutism, kondisi dimana anak menolak untuk berbicara pada situasi tertentu.
- Attachment disorder, yaitu bila anak tidak mampu mengembangkan ikatan emosional yang stabil dengan orang tuanya (biasanya karena masalah dengan keluarga atau kekerasan –abuse-).
- Developmental receptive language disorder, keterlambatan dalam bahasa tetapi perkembangan sosialnya normal.
- Mental handicap, apabila semua perkembangan mengalami keterlambatan - Atypical autism, hanya satu atau dua gejala yang ada sebelum mencapai usia 3 tahun.
- Asperger’s syndrome, yaitu bila perkembangan intelegensi dan bahasa normal, namun sosialnya abnormal.
- Reet’s syndrome, terjadi pada wanita dengan gangguan neurologis seperti gerakan tidak wajar pada tangan.
- Disinteragative syndrome, bila semua perkembangan terus menurun setelah periode perkembangan normal.
- Hyperkinetic disorder with stereotype/ attention deficit disorder, bila anak mengalami gangguan dalam konsentrasi, mudah kikuk, gelisah, dan perilaku berulang.
*berbagai sumber*
quote by DONNA WILLIAMS
"Nobody Nowhere"
In a room without windows
In the company of shadows
You know they won't forget you
They'll take you in. Emotionally shattered,
Don't ask if it mattered
Don't let that upset you Just start again.
In a world under glass
You can watch the world pass
And nobody can touch you
You think you're safe.
But the wind can blow cold,
In the depths of your soul
Where you think nothing can hurt you,
Till its too late.
Run till you drop, Do you know how to stop?
The people walk right past you.
You wave goodbye.
And they all merely smiled,
For you looked like a child,
Never thought that they'd upset you,
They saw you cry.
In the war of your soul,
You can't hear them at all,
And the world becomes an echo
Of what's left outside.
But nobody can win,
If you can't let them in
And there's nobody to answer
From that place where you hide.
Take advice, don't question the experts.
Don't think twice,
you just might listen.
Run and hide to the corners of your mind, alone,
Like a Nobody Nowhere.
History
Pada tahun 1943 Leo Kanner menulis tentang infantile autisme yang menerangkan tentang berbagai gejala yang didapat pada masa kanak-kanak dengan menggambarkan kesendirian, keterlambatan dalam perkembangan bahasa, melakukan aktivitas spontan terbatas, stereotip, obsesi terhadap cemas dan takut akan perubahan, kontak mata dan hubungan dengan orang lain pun buruk, dan lebih menyukai benda mati atau gambar. Dikenal juga dengan sebutan Autism Spectrum Disorders (ASDs) Anak-anak dengan autisme tidak mampu membentuk jalinan emosi dengan orang lain. Ada banyak hal yang sulit dimengerti oleh pikiran, perasaan, dan orang lain. Bahasa mereka adakalanya mengalami kegagalan, sehingga sulit berkomunikasi dan sosialisasi. Mereka pun kaku menjalani pola rutinitas kegiatan sehari-hari, bahkan seringnya melanggar aturan. Selain itu ada beberapa anak merasa sensitif dengan suara atau bunyi yang terdengar di telinga, sentuhan pada kulit atau tubuh, pandangan mata, bahkan penciuman. Ciri lainnya adalah melakukan gerakan meniru, baik ucapan atau gerakan. Ada juga yang melakukan self injury, yaitu melukai anggota tubuh misalnya headbang, mengorek-ngorek luka, menggigit anggota tubuh.
Ada banyak faktor yang menyebabkan autisme. Ringkasnya adalah disebabkan dari kelainan struktur saraf pada otak, genetik, sistem imun (akibat racun/timbal), dan kerusakan sistem metabolisme atau alergi makanan. Gejala mulai tampak pada usia 18-19 bulan. Seperti tiba-tiba menolak kehadiran orang lain, beperilaku aneh, dan kemunduran, bahasa-sosialisasi yang pernah dimilikinya. Autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki 3-4 kali lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Jika wanita yang mengidap, kemungkinan lebih serius dan terdapat riwayat genetik pada keluarganya.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, masalah autisme meningkat sangat pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bila tahun 1990-an jumlah anak penyandang autisme adalah 15-20 per 10.000 anak, maka pada tahun 2000-an diperkirakan ada 1 per 150 anak di Amerika, dan 1 per 166 anak di Inggris. Sehingga sampai tahun ini sedikitnya terdapat sekitar 35 juta penyandang autisme di seluruh dunia. Awalnya autisme terdapat pada keluarga dengan status sosial-ekonomi tinggi, namun akhir-akhir ini ternyata terdapat pula pada status sosial-ekonomi rendah.
Melihat peningkatan yang terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan penyandang autisme sudah ada di seluruh pelosok Indonesia. Yang menyedihkan adalah kurangnya tenaga ahli yang paham mengenai autisme dan kurang tersebarnya pengetahuan mengenai penanganan anak penyandang autisme. Sehingga selain di kota besar, penanganan anak-anak ini masih sangat minim bahkan sering terjadi salah diagnosis atau terapi.
Wawasan masyarakat awam pun masih sangat minim. Sering tejadi kesalahpahaman pengertian autisme itu sendiri. Misalnya perlakuan masyarakat yang melabel nakal, bahkan gila atau sekolah yang tidak menerima anak-anak seperti ini. Atau penggunaan kata “autis” untuk mengejek orang tertentu, yang paling parah kejadian yang baru-baru ini mendapat protes cukup keras dari orang tua dan aktivis mengenai iklan sebuah gadget yang menggunakan kata autis dalam iklannya. Bukankah ini pertanda sebuah kurang kepedulian masyarakat terhadap autisme?
Kabar baiknya, Di Indonesia telah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap masalah ini. Terbukti dengan mulai berkembangnya perhimpunan atau lembaga yang concern terhadap autisme, dan tenaga ahli seperti psikologi, orthopedagog (tenaga pengajar), terapis. Juga mulai munculnya sekolah khusus autistik atau sekolah inklusi (menerima anak dengan kebutuhan khusus). PBB dan negara-negara di dunia telah menjadikan autisme sebagai masalah global yang harus segera ditangani seperti AIDS. Dan mendeklarasikan setiap 2 April diperingati sebagai hari autisme di dunia.
type
Menurut Baron-Cohen (1993) ada beberapa kondisi yang –sebagai pembanding- mirip gejala autism, antara lain:
- Elective mutism, kondisi dimana anak menolak untuk berbicara pada situasi tertentu.
- Attachment disorder, yaitu bila anak tidak mampu mengembangkan ikatan emosional yang stabil dengan orang tuanya (biasanya karena masalah dengan keluarga atau kekerasan –abuse-).
- Developmental receptive language disorder, keterlambatan dalam bahasa tetapi perkembangan sosialnya normal.
- Mental handicap, apabila semua perkembangan mengalami keterlambatan - Atypical autism, hanya satu atau dua gejala yang ada sebelum mencapai usia 3 tahun.
- Asperger’s syndrome, yaitu bila perkembangan intelegensi dan bahasa normal, namun sosialnya abnormal.
- Reet’s syndrome, terjadi pada wanita dengan gangguan neurologis seperti gerakan tidak wajar pada tangan.
- Disinteragative syndrome, bila semua perkembangan terus menurun setelah periode perkembangan normal.
- Hyperkinetic disorder with stereotype/ attention deficit disorder, bila anak mengalami gangguan dalam konsentrasi, mudah kikuk, gelisah, dan perilaku berulang.
*berbagai sumber*
quote by DONNA WILLIAMS
"Nobody Nowhere"
In a room without windows
In the company of shadows
You know they won't forget you
They'll take you in. Emotionally shattered,
Don't ask if it mattered
Don't let that upset you Just start again.
In a world under glass
You can watch the world pass
And nobody can touch you
You think you're safe.
But the wind can blow cold,
In the depths of your soul
Where you think nothing can hurt you,
Till its too late.
Run till you drop, Do you know how to stop?
The people walk right past you.
You wave goodbye.
And they all merely smiled,
For you looked like a child,
Never thought that they'd upset you,
They saw you cry.
In the war of your soul,
You can't hear them at all,
And the world becomes an echo
Of what's left outside.
But nobody can win,
If you can't let them in
And there's nobody to answer
From that place where you hide.
Take advice, don't question the experts.
Don't think twice,
you just might listen.
Run and hide to the corners of your mind, alone,
Like a Nobody Nowhere.

Kami adalah Sekolah Khusus dan Terapi Autisme Al-ihsan, yang menyelenggarakan pendidikan SD, SMP, SMA, dan Terapi untuk anak berkebutuhan khusus (autisme). Info lebih lanjut klik www.sekolahautismeal-ihsan.com
BalasHapus